Glonggong

Glonggong

Glonggong Glonggong tokoh utama novel ini bukan tokoh serba bisa dalam menghadapi segala macam rintangan hidup Ia tak pernah berjumpa dengan ayahnya yang gugur ditangan serdadu Belanda saat ia masih bayi dan

  • Title: Glonggong
  • Author: Junaedi Setiyono
  • ISBN: 9789791275484
  • Page: 297
  • Format: Paperback
  • Glonggong, tokoh utama novel ini, bukan tokoh serba bisa dalam menghadapi segala macam rintangan hidup Ia tak pernah berjumpa dengan ayahnya yang gugur ditangan serdadu Belanda saat ia masih bayi dan hanya diasuh oleh dua orang pelayan setia Ayah tirinya terlampau asing buatnya Ibu yang sangat dikasihinya hidup sendiri dalam dunia sepinya hingga maut menjemput SementarGlonggong, tokoh utama novel ini, bukan tokoh serba bisa dalam menghadapi segala macam rintangan hidup Ia tak pernah berjumpa dengan ayahnya yang gugur ditangan serdadu Belanda saat ia masih bayi dan hanya diasuh oleh dua orang pelayan setia Ayah tirinya terlampau asing buatnya Ibu yang sangat dikasihinya hidup sendiri dalam dunia sepinya hingga maut menjemput Sementara, saudara perempuannya tanpa Ia sangka ternyata seorang gundik bangsawan.Glonggong tumbuh bersama anak anak desa di tengah keriuhan permainan pelepah pepaya yang mereka sebut GLONGGONG Sekalipun masih keturunan ningrat dari Keraton Yogyakarta Ia lebih dekat dengan suka duka rakyat jelata dibandingkan kebiasaan hidup kaum bangsawan yang penuh intrik dan gelimang duniawi.Mungkin inilah yang menyebabkan ia memilih bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro, bukan dengan keraton yang memihak Belanda Ia lebih suka masuk hutan keluar hutan dibawah ancaman bahaya dan bahu membahu bersama orang orang bernurani melawan keculasan Belanda dan Keraton.Sebagai prajurit ia sangat terpukul ketika suatu hari gagal mengemban tugas Ia berjanji akan mengatasi kegagalannya sebelum menghadap Pangeran Diponegoro Namun, waktu berjalan lebih cepat Saat ia telah berhasil memenuhi janjinya, pada 1830 ia menyaksikan sendiri Pangeran Diponegoro ditangkap dalam sebuah pertemuan Agung di Magelang

    • µ Glonggong || ☆ PDF Read by ☆ Junaedi Setiyono
      297 Junaedi Setiyono
    • thumbnail Title: µ Glonggong || ☆ PDF Read by ☆ Junaedi Setiyono
      Posted by:Junaedi Setiyono
      Published :2019-09-09T18:17:29+00:00

    933 Comment

    Dalam hidup, kita sering dituntut untuk membuat pilihan. Agak berat memang ketika dihadapkan pada dua buah pilihan: untuk tetap menjadi manusia atau menjadi ‘ternak’.Menjadi manusia, harus selalu siap menghadapi banyak masalah. Kehilangan orang-orang yang dikasihi, harta benda, difitnah, disiksa, dihina, dikhianati, dan hal-hal yang tidak mengenakkan lainnya. Kemudian, harus tetap bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, separah apa pun keadaan kita.Menjadi ‘ternak’, hidup penuh keni [...]

    novel ini hampir mengendap di rak selama hampir dua tahun. dan baru dibaca beberapa minggu terakhir. dan akhirnya selesai dengan susah payah. susah payah karena saya hanya memiliki waktu membaca saat berada di bis yang membawa saya ke kantor. persoalannya, tidak setiap waktu saya dapat tempat duduk. ketika saya harus berdiri di dalam bis, otomatis saya hanya melamun saja. tidak ada aktivitas membaca. kebetulan pagi ini (4/3) -hari ulang tahun saya- saya dapat tempat duduk dan selesailah novel in [...]

    Glonggong itu apa sih?Glonggong adalah pelepah daun pepaya yang sering digunakan anak-anak Jawa jaman dahulu untuk bermain perang-perangan. Aturan mainnya adalah bertanding satu lawan satu, atau perang sampai pemain glonggong terbaik mengalahkan semua lawan-lawannya. Cara bermainnya seperti main pedang-pedangan, lalu saling berusaha menyabet muka lawan dengan glonggong tersebut. Lawan yang terkena sabetan di mukanya harus segera menjatuhkan diri, dan baru boleh bangun bila dibangunkan oleh lawan [...]

    Glonggong, tokoh utama novel ini, sangat pantas menjadi juru tutur dari sebuah epik besar tanah Jawa, Perang Dipanegara.Glonggong yatim yang tak pernah kenal jelas siapa ayahnya, dengan ibu yang sangat membutuhkan kasih sayangnya, kiranya mampu bercerita dengan akrab tentang getir dan kesendirian perjuangan idolanya, Kanjeng Pangeran Arya Dipanegara.Perjuangan membutuhkan kesetiaan dan keteguhan. Seharusnya. Namun kenyataannya, semua berpindah posisi dengan cepat. Pilihan itu ada disetiap pihak [...]

    Perang Jawa atau De Java Oorlog (Belanda) adalah perang besar dan menyeluruh yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro atau yang dalam novel ini disebut-sebut sebagai Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Pe [...]

    Ketika trend buku pop mulai tergeser oleh buku bertema sejarah, bermunculanlah juga kisah-kisah fiksi dengan latar sejarah. Dalam setahun kebelakang, bisa kita temukan berbagai novel dengan tema sejarah, mulai dari seri Gajah Mada, Rahasia Medde, Dyah Pitaloka, dan bermacam kisah bertema sejarah lainnya. Dan Glonggong melengkapi deretan buku-buku bertema sejarah itu.Yang menarik dalam Glonggong, bagi saya justru beberapa kejadian yang tidak digarap detail, penulis justru memberikan sedikit kebeb [...]

    bagi saya, buku pemenang kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini lebih baik jika dibandingkan dengan Hubbu, novel pemenang pertama sayembara yang sama. Glonggong mungkin tidak mengangkat isu se-hangat Hubbu, tetapi novel histografi ini memiliki kekuatan dalam segi plot dan gaya bahasaot yang dikembangkan oleh penulis memiliki rantai sebab-akibat yang sangat kuat. adegan satu disebabkan oleh adegan lain, dan seperti itu seterusnya, seolah-olah penulis membiarkan plot itu berkembang dengan sendirinya d [...]

    Glonggong, adalah pelepah pepaya yang dalam permainan perang-perangan anak kecil memang tidak untuk mematikan lawan tapi cukup membuat lawan jatuh dan sedikit terluka.Cerita dibuku ini, memang sedikit serius karena berlatar belakang Perang Jawa, jaman Pangeran Diponegoro dan juga kita disuguhi cerita hidup Glonggong dari kanak-kanak hingga berhasil menuliskan kisah-nya.Glonggong, disini bukan pahlawan yang ikut berperang melawan Belanda tapi dia adalah pribadi yang kuat dalam mempertahankan prin [...]

    Glonggong adalah tangkai daun pepaya warna kuning pucat kehijauan.Glonggong juga merupakan nama panggilan bagi seseorang yang diberikan oleh Pangeran Dipanegara saat melihat seorang anak kecil itu piawai bermain glonggong.Kisah perjuangan, percintaan, perselingkuhan yang berlatarbelakang Perang Jawa atau Perang Dipanegara, membuat kisah ini memebrikan berbagai pengetahuan tentang tanah Jawa pada tahun 1825-1830,Tak peduli dia seorang Kiai atau seorang penjahat. Kita bisa melihat mereka berbelok [...]

    Buku ini menarik. Ringan tapi sebenarnya banyak filosofi yang terkandung di dalamnya. Berkisah tentang Danukesuma alias Glonggong. Di panggil Glonggong karena kemahirannya bermain glonggong, sejenis permainan pedang dari batang pepaya.Setelah dewasa, dengan glonggong berbahan kayu dan besi sebagai senjata, dia berjuang dalam perang dipanegara dengan prinsipnya. Glonggong bukanlah senjata untuk membunuh, tapi hanya bisa memukul. hmm.ba kalau semua perang cuma pakai senjata ini yaa;)Mengisahkan pa [...]

    Salah satu buku yang bagus, tapi aku masih ngerasa ngegantung gitu aja ceritanya. Seperti belum selesai, seperti ada yang mengganjal pikiran si pemilik cerita, sepertinya yang punya cerita ini juga menyesal karena tidak pernah bertemu lagi dengan Ratu Adil itu, belum sempet minta maaf, dan ga ada kisah penjelasan lagi sesudahnya. Pokoknya aku ngerasa nge-float gitu setelah baca buku ini, anehBtw, itu kali ya yang mau disampaikan oleh yang punya ceritanya. Ga tau lah

    Sebagai novel berlatar sejarah, alur cerita novel ini memang menarik meskipun alurnya berjalan lambat. Hal ini sepertinya disengaja oleh penulisnya untuk memperkuat karakter tokoh utamanya. Tokoh utamanya dibebani banyak masalah hingga membentuknya menjadi pemuda yang berkemauan kuat dan keras kepala. Penulis berhasil menyajikan Glonggong sebagai tokoh yang hidup, yang karakternya seolah-olah benar-benar ada. Terlebih lagi, penulis tidak menciptakan tokoh utama yang sempurna. Bahkan, Glonggong s [...]

    “hari itu Ahad 28 Maret 1830. Aku hanya bisa memandang dari jauh roda kereta yang berderak dan kaki kuda yang berlari berderap, membawa pergi Kanjeng Sultan Ngabdulkamid…”Dilatari oleh peristiwa yang merubah arah sejarah tanah Jawa, novel ini bergulir…Perang Jawa atau perang Diponegoro atau Java Oorlog yang berlangsung selama 5 tahun antara tahun 1825-1830 telah menorehkan banyak kesan di benak orang-orang yang mencoba menyimaknya, termasuk saya.Di dalam sejarah 350 tahun pendudukan Bela [...]

    Buku yang keren !!Saya suka membaca sejarah. Perang Diponegoro adalah salah satu perang yang membuat saya terkagum-kagum pada tokoh pahlawan Pangeran Dipanegara ini. Bukan hanya karena sikapnya yang sangat bersahaja, yang sangat membumi kendati beliau adalah putra salah seorang selir Sultan, tapi juga adalah karena taktik perang yang digunakannya yang membuat negara Belanda mengalami kebangkrutan.Glonggong adalah kata yang digunakan untuk menyebutkan pelepah daun pepaya. Di tanah Jawa, glonggong [...]

    "Glonggong" mengalir dengan lancar, hampir tanpa halangan. Junaedi mengisahkannya dengan baik, dari permainan daerah, penjajahan kompeni Belanda, intrik dalam peperangan, pengkhianatan, sekaligus juga makna cinta. Latar belakang sejarah peperangan Diponegoro menjadi daya tarik tersendiri meski sepanjang kisah ini tak ditemui fragmen peperangan utuh yang melibatkan Glonggong dan Dipanegara dalam satu waktu.Novel ini menarik, tapi belum tepat jika dianggap sebagai novel sejarah. Kisahnya berkutat [...]

    saya menyelesaikan novel ini dalam semalam, sampai saya bela2in baca di ruang depan, karena Suami saya ga bisa tidur kalau lampu nyala. Novel ini menghipnotis saya. Membawa khayalan saya sampai ke masa perang diponegoro. Menyentuh rasa saya, ketika membayangkan Glonggong muda, si tokoh utama, menggendong ibunya yang sakit lumpuh untuk mandi di sungai. Romansa dalam jiwa saya tergelitik ketika membayangkan perang besar Diponegoro. Buku ini benar-benar membuat saya tertawa, mbrebes mili, dan terse [...]

    kisah danukusuma yg lebih dikenal dengan "glonggong". kisah dengan latar perang diponegoro ini, punya gaya bahasa yg menurut gw enak banget buat diikutin. wajar kali ya, kan salah satu pemenang dalam sayembara novel yg diselenggarain DKJonggong menurut gw anak yg cerdas, namun dia punya cara sendiri untuk hidup. kadang orang menganggapnya aneh. banyak pesan moral yg bisa diambil.

    hwaaa udah nulis panjang2 ilaaaaang #manyunyah pokoknya cerita bagus, mustinya aku ngasih 4*, tapi sayang kata/kalimat dalam bahasa jawa yg belarakan di sepanjang buku dijelasinnya di belakang kenapa ga pake catatan kaki sih? atau kalo mau ditaruh di belakang ya lebih bagus di nomerin jadi ga pusing nyarinya #DilemaPembacaYangGaBisaBahasaJawa

    Cerita berlatarbelakang perang Diponegoro. Tentang seorang keturunan bangsawan yang mahir menggunakan 'glonggong' tangkai daun pepaya yang digunakan sebagai pedang-pedangan.Sepintas alur penceritaan mengalir. Namun ada beberapa bagian yang aku pikir mengganggu pembaca. Melompat-lompat begitu.

    Berlatar waktu di jaman perang jawa "java oerog" tokoh Pangeran Diponegoro nya sekali2 dimunculin jadi bikin penasaran,

    keren walaupun akhirnya aku gak suka. Trus perang2nya kurang ditonjolkan. Padahal kukira aku akan membaca tentang fiksi-sejarah perang diponegoro.

    Cerita yang sangat menarik, sangat recommended. Antara 4 - 5 bintang. Review menyusul.wah, sepertinya nggak jadi ngereviw. keburu lupa. hahahaapkeun. :)

    Keren seh baca tentang sejarahnyak bgt ke jalan ceritanya tp endingnya anti-klimaksharapnya endingnya lebih bagus

    Novel mellow kalau aku bilang. Settingnya jaman perang Diponegoro. review lengkap lihat di lembarkertasltiply

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *